Direktur Pascasarjana Istitut Agama Islam (IAI) Qomaruddin, Bungah, Gresik, Jawa Timur, H Abdul Muid mengungkapkan bahwa betapa pentingnya memahamkan generasi pesantren dan dunia mahasiswa di Indonesia untuk meneruskan dan membekali generasi penerus selanjutnya tentang kajian akidah Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja) yang bermadzhab al-Maturidiyah dan As’ariyah.
“Tidak berhenti sampai di situ, dalam bidang fiqih hendaknya memilih madzhab Syafiiyah, dan dalam bidang tasawuf mengikuti Imam Ghazali,” ujarnya, dikutip HIDAYATUNA dari laman NU Online, Jumat (11/10/2019).
Pernyataan itu disampaikan saat memberikan pengantar dalam seminar international dengan tema “Ahlusunnah Wal Jamaah dalam Persepektif Kitab Muktadlo Syahadataini karya Syekh Abdul Ghoni An Nablusi” dalam hal memperingati Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober mendatang yang bekerja sama dengan Pengurus Cabang (PC) Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Gresik dan Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin.
Di sisi lain, Rektor IAI Qomaruddin, H Lutfi Hakim berterima kasih atas kehadiran Sameerbin Abdurrahman selaku pemateri, dan kepada peserta seminar yang terdiri dari mahasiswa S1, S2 IAI Qomaruddin dan tokoh masyarakat Gresik, pengurus Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin dan perwakilan dari penggelola perguruan tinggi di Gresik.
Selain itu, ia berharap agar kehadiran narasumber memberikan tambahan pengetahuan dan keberkahan ilmu.
“Semoga ilmu yang didapat dari Doktor Sameer ini bermanfaat untuk kita sekalian dunia sampai akhirat,” katanya saat sambutan.
Perlu kerja sama yang kian intensif dalam mengawal generasi muda, kampus dan lembaga pendidikan hingga lingkungan dari pengaruh gerakan radikal.
“Pondok pesantren bersama civitas akademika, LPTNU, apalagi IAI Qomaruddin mempunyai peranan yang sangat dominan dalam rangka mengembangkan dakwah Islam ala Ahli Sunnah wal Jamaah yang rahmatan lilalamin di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang serba komplek dan global ini,” tandasnya.

Dalam seminar itu, mengundang narasumber dari Global University of Bairut, Lebanon, Sameer bin Abdurrahman Al-Khouly. Pada kesempatan itu, ia juga menambahkan bahwa pemahaman tersebut sudah termanifestasi dalam ajaran yang diikuti mayoritas Muslim di Indonesia adalah dengan mengamalkan bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rasa cinta.
“Hal itu harus diamalkan karena ada dorongan dan motivasi yang sangat kuat kepada baginda rasul. Kebiasaan itu utamanya dilakukan ketika datang bulan Maulid Nabi Muhammad SAW,” papar narasumber itu.

Sumber : HIDAYATUNA.COM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *