NU akan mendapatkan posisi di lingkungan pemerintah apabila mampu menjadi khadimul ummah yang mampu melayani kebutuhan ummat secara luas. Warga NU dibutuhkan karena mempunyai kemampuan di tengah kehidupan masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan KH Cholil Staquf pada seminar nasional yang diadakan alumni  Pondok Pesantren Qomaruddin, Bungah, Gresik, Jawa Timur. Dirinya tampil bersama Abdul Gaffar Karim, pakar politik dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada seminar dengan tema Positioning dan Strategi Transformasi NU dalam Dinamika Millenial, Ahad (1/12).

“NU sebagai jamiyah tidak pernah pusing, apakah Presiden Jokowi mengangkat pengurus NU sebagai menteri atau tidak, karena untuk urusan itu PBNU tidak sebagai kapasitas mencari menteri, karena urusan menteri adalah hak prerogratif presiden,” tutur Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini.

Posisi NU di masa yang lalu hingga sekarang adalah banyak dijadikan referensi oleh dunia luar, termasuk yang disampaikan Duta Besar Inggris. Sebab NU mampu menjadikan jati dirinya sebagai kekuatan civil society di tengah kehidupan masyarakat. Bahkan Universitas Gajah Mada ikut mengusulkan agar NU dihadiahi piala Nobel oleh dunia karena organisasi itu mampu menjadi perekat dan menjaga simbol perdamaian di Indonesia.

“Maka, tidak heran jika banyak masyarakat dunia yang mengagumi atas eksistensi NU baik sebagai jamiyah maupun sebagai jamaah,” katanya.

Sementara, Abdul Gaffar Karim memaparkan saat menjadi mahasiswa di Australia pernah malu sebagai warga NU. Hal tersebut karena sangat sedikit mahasiswa Australia yang berafiliasi kepada organisasi NU.

“Mengapa sekarang kita tidak malu mengatakan sebagai warga NU, bahkan sangat bangga? Karena semua ini atas jasa KH.Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU dan sebagai Presiden RI pada waktu itu. Gus Dur mampu mentranformasikan keimuan yang dimiliki,” katanya.

Karena Gus Dur mengubah paradigma NU yang dulunya sebagai organisasi kuno, konservatif. Bahkan mampu  menjadikan warga NU terkaget-kaget atas kemampuan dan perubahan tranformasi mindset paradigma pemikiran yang menurut banyak pemikiran masyarakat tabu menjadi tidak tabu.

Yang dilakukan Gus Dur mampu membikin suasana warga NU yang dulunya dikatakan kuno menjadi bangga. Sehingga banyak kalangan yang senang gaya Gus Dur sehingga mampu menyedot perhatian dunia luar.

Pengasuh Pesantren Qomaruddin Bungah, KH Nawawi Sholeh sangat berterima kasih atas kedatangan Katib Aam PBNU dan menjadi pembicara dalam rangka seminar nasional yang diselenggarakan Alumni Madrasah Aliyah Assadah Bungah bekerja sama dengan Institut Agama Islam (IAI) Qomaruddin Bungah Gresik.

Rektor Institut Agama Islam Qomaruddin, H Lutfi Hakim mengatakan, jika warga NU menginginkan kemajuan di masa yang akan datang, maka kata kuncinya adalah harus mampu mentranformasi berbagai bekal keterampilan.

“Sebab abad 21 hannya orang tertampil rampilan dan kompeten mampu bertahan untuk menghadapai tantangan masa depan,” tegasnya.

Di tempat tertpisah, Abdul Muid selaku Direktur Pascasrjana IAI Qomaruddin, menjelaskan bahwa di era milenial ini yang dibutuhkan warga NU ini bukan hanya keterampilan dan keahlian.

“Namun sebagai warga NU harus mampu membuktikan keterampilan dan Keahliannya, jika mereka tidak menginginkan hanya sebagai penonton belaka,” tandasnya.

 

Kontributor: M Jauhari Utomo
Editor: Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *